Balada Mbak-Mbak

image

Setiap musim lebaran, pastinya kita selalu menikmatinya dengan penuh sukacita, bahkan ketika kita uda mulai masuk kerja. Karena mungkin kita uda kangen dengan suasana kantor (meskipun menetap di rumah lebih menyenangkan). Cuman, teman kerja gue yang udah berumah-tangga selalu was-was, harap-harap cemas, karena Pembantu Rumah Tangga (PRT) – atau yang lebih akrab disapa ‘Mbak’ – gak ngasih kejelasan kapan mereka balik dari mudik. Kalo didiemin biasanya mereka mah gak ada kabar, nanti ditelepon baru deh kasih kepastian kalo mereka gak bakal balik ke Jakarta. Alasannya macem-macem, ada yang udah ditahan sama keluarga di kampung, dijodohin, dan lain-lain.

Yang menarik adalah, balada para Mbak ini selalu terjadi pasca musim lebaran. Gue suka kaget, Mbak-nya bos gue udah berganti rupa beberapa kali. Awalnya, gue mikir bos gue punya beberapa orang Mbak, tapi rupanya Mbak-nya yang udah gonta-ganti beberapa kali. Kejadian ini cuma terjadi di Jakarta, atau mungkin beberapa kota besar lain. Gue gak pernah nemuin kejadian ini di kampung halaman gue, Gorontalo. Paling mentok Mbak-nya diganti karena kejadian-kejadian tak terduga, seperti meninggal dunia. Itu pun yang gantiin masih sodaraan sama si Mbak yang meninggal dunia itu.

Gue gak nge-judge kalo orang-orang di Jakarta memperlakukan Mbak-Mbak nya dengan tidak layak. Mereka semua baik-baik kok sebagai majikan, bahkan beberapa menggaji Mbak-nya dengan tarif yang tinggi. Tapi ada aja yang bikin si Mbak ini gak betah, dan biasanya itu dikarenakan hal-hal yang sepele. Gue gak tau secara pasti, bisa aja karena kamarnya yang terlalu sempit dan gerah banget, atau mereka malu jalan-jalan ke mall gede tapi pakaian mereka lusuh. Atau hal-hal kecil lainnya, yang mungkin saja orang-orang metropolitan gak peka tentang hal-hal kecil itu.

Di Gorontalo, mungkin orang berpikir gak banyak yang membutuhkan si Mbak karena profesi working mom masih sedikit. Jangan salah, working mom di Gorontalo cukup banyak loh, bahkan udah ada sejak dulu. Contohnya, Oma gue, dia seorang guru dan punya delapan anak yang harus diurus. Pastinya Oma gue kewalahan banget, akhirnya dia mempekerjakan beberapa orang Mbak di rumah buat mengasuh anak-anaknya. Seiring anak-anaknya udah bertumbuh besar, maka Mbak yang bekerja mulai dikurangi satu per satu. Hingga tersisa satu Mbak di rumah, namanya Hani. Tapi gara-gara gue, semua orang jadi manggil Ate ke Hani (ceritanya panjang, lain kali aja gue ceritain). Gue salut banget sama si Ate yang bisa bertahan di keluarga gue sampai tiga generasi, sampai akhir hayatnya. I miss you Ate :(

Poinnya adalah, orang-orang di Gorontalo suka memperlakukan Mbak-Mbak setara dengan si majikan. Si majikan suka bergosip bareng dengan Mbak-nya tanpa ada rasa sungkan. Anak-anak selalu salaman dan mencium tangan si Mbak yang umurnya lebih tua.  Atau ketika sedang ada hajatan, si majikan pun menyiapkan pakaian yang bagus buat si Mbak. Si Majikan kadang suka mengusili si Mbak terkait hal-hal yang pribadi, misal ketika si Mbak lagi dideketin satpam komplek. Bahkan ada majikan yang turut mewariskan si Mbak sepetak tanah atau sawah.

Gue melihat hubungan antara majikan dan Mbak-nya ini sangat erat dan tidak ada gap sosial yang membedakan keduanya. Gak jarang beberapa Mbak malah memilih gak mudik, dan justru mengajak keluarganya yang ber-lebaran di rumah si majikan. Karena si Mbak sudah merasa rumah majikannya seperti rumah mereka sendiri. Nah, kadang hal-hal sepele seperti itu yang susah dijalankan oleh orang-orang Jakarta yang cenderung individualis dan cuek bebek. Meskipun pada dasarnya mereka semua sangat baik terhadap Mbak-Mbak mereka. Cuman baiknya orang kota dengan orang desa kan beda, hehehe…

Pria Itu Penuh Keceriaan

Mengingat Opa, membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Karena Opa adalah sosok yang ceria, menurut saya. Tidak pernah saya melihat Opa sedih, marah, atau pun penuh emosi yang meluap-luap. Kalaupun marah pada akhirnya akan tertawa juga, seolah-olah dia menertawakan kemarahannya yang barusan dia lakukan. Tapi sekarang, mungkin untuk tersenyum menjadi sangat berat, mengingat Opa kini membuat saya sedih, karena saya tidak bisa melihatnya tersenyum penuh arti, ataupun mendengar panggilan ‘sayang’ khasnya kepada para cucu. 
 
Opa tidak kalah inspiratif dari Oma. Opa sangat rajin membaca, hampir tiap hari banyak koran-koran yang bertumpuk di tempat tidurnya, yang dibacanya hinga dia tertidur. Kadang Oma suka mengomel kalau pagi-pagi di tempat tidur banyak koran-koran kusut berserakan di tempat tidur. Opa juga suka membeli buku-buku yang menurut orang lain tidak ada gunanya, tapi semua buku itu dibaca tuntas sama Opa. Juga ketika Opa membeli buku catatan kecil berulang-ulang kali dan ditulis dengan hal-hal yang tidak dimengerti, di situ saya paham Opa selalu mencatat informasi dan pengetahuan baru yang menurut Opa itu penting dan akan bermanfaat suatu saat nanti. Kadang juga saya heran melihat Opa suka berbicara sendiri mengenai penjajahan Belanda, invasi Jepang, atau topik-topik berat lainnya, belakangan saya mengerti rupanya itu adalah cara Opa untuk membuat informasi dan pengetahuan yang dia miliki tidak mudah dilupakan dan terus diingat. 
 
Tidak heran, jika Opa selalu ingat segala sesuatu yang pernah dia alami selama hidupnya sejak dia masih muda, dan juga tidak pernah lupa tentang informasi dan pengetahuan yang dilihat, dibaca, ataupun didengar. Waktu saya masih SD, saya menganggap Opa adalah orang yang paling pintar, mengalahkan guru-guru saya yang di sekolah.
 
Saya juga menyukai sifat Opa yang berani, tidak malu untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan meskipun hal tersebut dianggap tidak lazim oleh orang lain. Saya senang mendapatkan kesempatan menemani Opa setiap saat berbelanja di supermarket, selain membantu Opa membawa barang-barangnya, saya suka menyelipkan dua buah cokelat, atau dua bungkus snack Chiki di belanjaan itu. Mengapa selalu menyelipkan dua cemilan yang sama? Satunya untuk saya makan sendiri, satunya lagi untuk adik saya. 
 
Ketika tiba di rumah dengan banyaknya barang belanjaan, Ibu saya pasti senang karena tidak perlu belanja bulanan lagi, Om Walid senang karena kebagian rokok, dan Oma yang akan mengomel karena Opa selalu boros. Tapi kadang-kadang Oma diam-diam menyimpan snack-snack belanjaan Opa untuk dimakan sewaktu-waktu. Menurut saya momen itu lucu sekali. 
 
Terimakasih Opa, telah membuat masa kecil saya penuh warna :)

Home, I’m Gonna Miss You

Banyak cerita-cerita seru yang terjadi selama di Gorontalo, suasananya sungguh sangatlah hangat. Atmosfer yang akan selalu ku rindukan selama aku berada di kampung orang. Tak terasa hari ini adalah hari kembali-ku ke tanah penafkahan di ibukota. Akan ku tutup kembali lembar-lembar kenangan indah ini untuk ku buka lagi di tahun depan, di moment yang sama; Idul Fitri.

Akan sangat kurindukan segala keributan dan kegaduhan yang penuh gembira di sini. Tapi mimpi-mimpi indah di sana tak akan menunggu lama untuk segera diwujudkan, dan aku harus siap. Home, I’m gonna miss you.

Lamaran Kerja yang Tidak Diterima

Somehow, posisi strategic planner adalah pekerjaan idaman saya. Tapi setelah mengikuti beberapa panggilan interview, saya harus menerima bahwa gelar stratplan tidak mudah disandang oleh seseorang. Perlu banyak pengalaman kerja yang harus dilalui agar saya bisa menjadi seorang stratplan. Mas Daniel, sebagai atasan mbak Dila, mengatakan bahwa stratplan itu seperti dokter, untuk memperoleh gelar tersebut harus membutuhkan pengalaman kerja terlebih dahulu.

Dan, saya sama sekali tidak kecewa ketika mengetahui saya tidak diterima sebagai stratplan di JWT. Karena mbak Dila sangat menunjukkan respek dan kepeduliannya, bahkan kepada saya yang cuma lulusan S1 yang tak berpengalaman. Berbeda dengan agency lain, yang tidak memberi kabar sama sekali, mbak Dila justru mengirimkan email kepada saya, yang justru membuat saya semangat. Berikut isi emailnya:

Subject: Hi Inal
From: sandila.ekaputri@jwt.com

Hi Inal,

Thanks again for coming last week for a chit chat with me and Daniel. Your passion and ambition is such a great trait and it’s always good to have people like that around in any organization or community. A plus point is when you get to meet an aspiring planner. To me, that’s a gem :)

At the level where we are currently in, we feel that contribution from someone who has done Planning for at least a year would be valuable. Having said that, after a review together, we decided we might not be able to give the position in Planning to you right now.

However, if Planning is something you really want to pursue, I encourage you to start equip yourself with books about Planning. Learn from it. Get inspired from it. Practice from it. Learn as you go. Read lots of books about things, observe pop culture, watch movies, talk to different people, and relate it to Planning. It’s one of Planning’s best secret weapon.

I hope our paths would cross sometime in the near future but in the mean time, wishing you the best in your job hunt. Iris would be a good place for you to start Planning. But also consider big local agencies like Fortune etc. to expand your options.

Best regards,
Dila

Pertama yang saya rasakan memang sedikit kekecewaan, tapi membaca kalimat selanjutnya saya langsung merasakan sebuah semangat yang berkobar di dalam diri saya. Saya membalas email tersebut:

Subject: Re: Hi Inal
From: inalmuhammad@gmail.com

Halo mbak Dila,

I just read your message, such a great moment to meet you and Daniel, and thanks for the advice. I hope we can meet again in next opportunity :)

Warm regards,
Inal

Setelah itu saya masih sibuk di hadapan laptop mengirim lamaran kerja ke agency lainnya.

jazzzyone

In the Social Media Era…

jazzzyone:

 

Strangers are friends.

Friends are fans.

Enemies are followers.

Words speak louder than actions.

If many Like or REpeat it, then it must be right/true/valuable.

If people ignore it, then it must be wrong/false/worthless.

Funny and wrong > unfunny and right.

The copycat is a genius.

The creator is a hater.

Everyone’s a writer, pundit, critic, judge, philosopher, guru/life coach, photographer, model, actress, singer, rapper, musician, comedian, CEO, marketer, groupie.

If you agree with my point of view, then you’re awesome and we can be friends.

Agreement means that you’re a fan who deserves to share the spotlight.

Disagreement means that you’re a hater who deserves to be harassed and/or ignored.

If you don’t post a pic, then it didn’t happen.

If you don’t post, then you don’t exist.

#DigitalPR

image

Halo! Kenalkan namaku Inal, alumni  08, konsentrasi PR. Kesempatan yg luarbiasa skali diizinkan berbagi dgn teman2 :) 

Skg aku bekerja di salahsatu agency yg bergerak di bidang  bernama Talk Link

Talk Link menghandel bbrp brand seperti Acer, Java Jazz, Ponds, Samsung, Opera Browser, Electrolux, dll 

Grup bisnis Talk Link menjadi the 1st & the Only 1 Certified Google Analytic Partner in Indonesia 

Maka dr itu Talk Link berkiblat lgsug pd Google.Inc yg suka menyenangkan karyawannya dgn fasilitas2 yg disediakan perusahaan :D 

Oke, kerja Talk Link sendiri 70% bergerak di  dan 30% Conventional PR

1. Knp  ? Karena skg bnyak sekali media baru yg lahir, menyebabkan trjadinya perubahan pola konsumsi media pd publik

2. PR engage the journalist,  engage the audience, because in digital everyone is a journalist

3. Dulu PR hnya sekedar mndstribusikan release2 dan diterbitkan oleh media cetak  

4. Dulu PR hnya mengundang para reporter TV utk mengdakan peliputan seputar brand/perusahaan 

5. Dulu PR hnya mngadakn talkshow di bbrp stasiun radio  

6. Dulu PR hanya menggelar pressconfrence utk memperoleh media coverage sebanyak-banyaknya 

7. Skg media landscape berubah membuat bbrp paradigma PR perlu dimodifikasi, seperti pd gambar berikut 

image

8. Yg akhirnya menyebabkan workflow PR menjadi lebih kompleks dr sebelumnya, lihat gambar 

image

9. Skill yg dimiliki PR pun tdk sebatas relationship development aja, tapi harus punya skill ini juga  

image

10. Tp jgn khawatir, meskipun kompleks  pekerjaannya lebih menyenangkan drpd konvensional PR :D

11. Kamu yg rajin update status, suka kepo, sblum makan ada ritual foto2 makanan, punya byak akun socmed berarti kamu udah  banget

12. Namun setidaknya ada 3 hal yg perlu kamu perhatikan dalam , lihat gambar 

image

13. Dalam ber-storytelling,  biasanya menggunakan salahsatu dari tiga cara berikut:
14. So, should we switch to digital? Tidak, jika publiknya adalah msyrakat suku asmat, digital akan sangat useless 
 
15. Tp pertimbangkan: saat ini hotnews di media konvensional berkiblat pada digital media 
 
16. Gangnam style menjadi sangat hype di online, sebelum akhirnya menjadi liputan hangat di TV  
 
17. Sehingga audiens yg gak punya akses digital pun jadi tau ttg Gangnam Style 

18. Dunia PR itu luas banget, apalagi , jd kalo kamu lulus jgn jadi customer service bank lagi dong

Begitulah isi dapur  yg aku dpt dr pengalamanku yg masih cetek ini :D

Yang mau liat review kultwit ttg  di lain waktu, bisa liat arsipnya di sini: http://bit.ly/YnoVxB

Atau bisa juga download sharingku ttg  dlm format PDF di sini: http://slidesha.re/10zWdpy

Terimakasih banyak admin  atas ksmpatan yg diberikan utk sharing ttg  dan teman2 yg antusias utk menyimak :D

Another way to be the best is being different :)