Exosphere Chaser

Electrolux Indonesia regularly update their signature content called; Foodie Pun, on its Facebook and Twitter official account. Those pictures above are my favorite Foodie Pun so far. Do you have your own Foodie Pun? ;)

Tukang Ojek

Gue sebagai anak PR, mungkin uda paham banget kali ya sama teori-teori PR, tapi belum tentu uda bisa menerapkannya. Alkisah, di sebuah pangkalan, ada tukang ojek yang memiliki langganan paling banyak dibandingkan ojek lainnya, salah satunya gue. Gue heran, kenapa cuma dia yang kebanjiran langganan? Kadang gue harus nunggu lama pas minta dijemput sama dia, soalnya dia lagi ngantar langganannya yang lain.

Setelah gue amati si tukang ojek ini gue baru sadar dia sedang mempraktikkan aktivitas PR. 

Ketika Si ojek selalu tau jadwal antar-jemput pelanggannya, dan kalo sudah waktunya kadang dia suka sms “gak jemput bos?” – menurut gue itu namanya marketing pr.

Terkadang si ojek selalu ngasih potongan harga, bahkan ngojek gratis ke pelanggannya – menurut gue itu namanya customer reward.

Motornya selalu keliatan bersih, si ojek selalu rapi dan wangi, helm nya gak bau, jadinya pelanggan merasa nyaman – menurut gue itu namanya quality control.

Saat di jalan, kadang si ojek suka ngajak ngobrol pelanggannya, kadang juga si pelanggan curhat ke dia, dan dia dengan tulus ngasih masukan menurut kapasitasnya dia – menurut gue itu namanya customer care.

Tapi, terkadang sebaliknya, si ojek yang suka curhat ke pelanggannya. Curhatnya pun masih relevan, misalnya tentang pengalamannya bikin STNK, apa yang harus diurus buat bayar pajak, atau gimana cara melakukan kredit motor – menurut gue itu namanya key message pick up.

Si ojek dengan rajin mengurus pajak kendraan dan memperpanjang STNK hingga akhirnya dia hampir gak pernah ditilang polisi – menurut gue itu litigation pr.

Mungkin dia gak belajar PR di bangku kuliah, tapi bisa konsisten menerapkan fungsi-fungsi PR. Makanya menurut gue, PR itu bukan hanya ilmu akademik yang cuma bisa diajarin dikampus. Tapi PR itu ilmu tentang kehidupan, kita bisa belajar tentang PR dari mengamati segala bentuk kejadian di sekitar kita.

An inspiring speech by UN Women Goodwill Ambassador, Emma Watson at a special event for the HeForShe campaign, United Nations Headquarters, New York, 20 September 2014.

Hal Yang Menyebalkan: Garuk-Garuk Jerawat

Gimana rasanya ketika ada satu jerawat yang nongol di muka secara tiba-tiba? Pastinya nyebelin. Suatu pagi, sebelum berangkat ngantor, seperti biasa gue ngaca dulu, dan gue menemukan satu spot bagaikan nila setitik yang merusak susu sebelanga. Yap ada jerawat, satu biji, nongol di pipi. Well, sebelnya biasa aja sih. Sampai akhirnya besok paginya – dengan rutinitas yang sama, ngaca – nila setitik itu udah berubah jadi nila sebelanga. Gila, jerawat gue kok mendadak jadi kayak gini yah?! Makin sebel, apalagi temen kantor gue nyeletuk; “itu jerawat apa bisul sih?! Kok gede amat yah?!”

Dengan sabar gue bersihin muka gue secara rutin, dan akhirnya jerawat itu udah mulai kering, tapi belum kempes. Biasanya sih nongol biji kecil banget dari dalam jerawat, nah jerawat gue uda sampe di tahap itu. Gue menahan diri buat gak megang-megang jerawat gue, meskipun agak sedikit gatal. Tapi, semua gak berjalan semulus itu. Suatu pagi, lebih pagi dari kondisi di atas – di mana gue masih tidur dan belum sadarkan diri – gue pun gak sadar garuk sana-garuk sini, namanya juga orang masih tidur.

Cesss!!! Tangan gue dengan mulusnya menggaruk jerawat setengah kering itu sampai pecah. Gue langsung sadar, ngantuk gue hilang seketika, padahal alarm belum bunyi. Semacam gak percaya apa yang terjadi barusan, gue pegang-pegang lagi jerawat gue yang udah tewas. Jari gue agak lembab, kena cairan yang keluar dari jerawat gue yang pecah itu. Damn! Nambah lagi satu bopeng di pipi gue. Jerawat gue pecah beneran, ini bukan mimpi. Dan gue cuma bisa diam, tiduran menatap langit-langit.

Mau nyalahin orang, tapi gak tau siapa yang salah. Dengan terpaksa gue harus ikhlas. Inilah fase di mana rasa sebel gue berada di titik yang paling tinggi saat kena jerawat. 

Kadang lo merasa bosen banget dengan kerjaan lo di kantor yang sepertinya gak bakal habis-habis, sama hal nya dengan gue. Hari ini, gue istirahat beberapa menit dari rutinitas, dan melakukan hal yang gak biasanya. Ya, gue telah melakukan tindakan vandalisme di kantor gue :D

Me and teams had a small celebration for the 4th anniversary of our second home, our lovely company Talk Link. Keep comfort and warm :)

Belajar dari Florence

image

Ini bukan pertama kalinya seseorang dibully habis-habisan di social media. Belum lama dunia maya sempat heboh dengan adanya Danang, si penembak kucing. Kemudian ada Dinda, yang benci sama ibu hamil. Sekarang muncul lagi sosok yang mendadak terkenal karena di-bully, Florence, yang menjelek-jelekkan Jogja lewat statusnya di path. Kenapa harus muncul lagi kejadian serupa? Apakah kejadian Danang dan Dinda tidak cukup untuk pembelajaran bagi kita? Sampai akhirnya muncul korban baru bernama Florence.

Ya, mereka adalah korban, korban ketidaktahuan mereka tentang bagaimana seharusnya bersikap di social media. Florence merasa kesal disoraki oleh para pengendara motor yang sudah antri panjang di sebuah SPBU di Jogja, karena si Florence malah masuk ke antrian mobil dan dianggap mencoba menerobos antrian. Florence pun jengkel dan meluapkan emosinya di path. Entah siapa yang men-capture dan menyebarkan status Florence, hingga akhirnya menjadi viral di social media. Sampai Florence akhirnya didemo warga, bahkan ditahan oleh pihak kepolisian.  

Mari kita semua belajar dari kejadian-kejadian ini, agar tidak ada lagi Danang, Dinda atau Florence yang lainnya. Kejadian menunjukkan bahwa musibah digital ini bisa menimpa siapa saja. Jadi hikmah apa saja yang bisa di ambil dari kejadian ini?

1. Pahami Etika dalam Ber-Social Media

image

Biasanya sebelum bikin account di social media jenis apapun, selalu ada arahan untuk membaca terms & policy. Semua tata tertib dijelaskan dengan gamblang di situ, sayangnya kita malas sekali untuk membaca semua aturan itu. Kita sengaja mengabaikannya dengan asumsi bahwa aturan tersebut tidak terlalu signifikan jika dilanggar. Makanya mindset kita selalu beranggapan bahwa social media adalah ruang yang bebas, tidak ada aturan yang jelas. Padahal apapun social media yang kita gunakan, baik facebook, twitter, instagram, path ataupun yang lainnya, pasti memiliki beberapa aturan yang jelas. Danang, Dinda, dan Florence dan sebagian besar dari kita, sering mengabaikan hal itu. Sehingga terjadi pertengkaran di social media, saling menghina, mengejek dan lain-lain.

2. Beda Social Media, Beda Aturan

image

Sekarang, social media tidak hanya facebook dan twitter saja. Sekarang ada path, Instagram, pinterest, google+, ask.fm, soundcloud, you name it! Karakteristik setiap social media berbeda-beda. Misalnya instagram dan pinterest, meskipun sama-sama image based, namun konten image di instagram dan pinterest digunakan untuk kepentingan yang berbeda. Let say instagram digunakan untuk konten gambar yang bersifat real time, sedangkan pinterest berfungsi sebagai moodboard online.

Florence mengungkapkan kekesalannya melalui path. Social media ini bersifat tertutup, apa yang dibagikan melalui path hanya bisa dilihat oleh teman-teman terdekat. Berbeda dengan facebook, postingan kita terkadang harus diperhatikan, karena di situ kita sudah berteman dengan orangtua kita, dosen kita, bos kita, bahkan seseorang yang tidak kita kenal sama sekali.

Layaknya sahabat, kita bebas mengutarakan kekesalan kita. Jika sahabat kita tersinggung dengan perkataan kita, dia tidak akan menyebarkannya ke orang lain, melainkan mengungkapkannnya langsung kepada diri kita.  Begitulah kira-kira ilustrasi pertemanan di path. Jika ada seseorang yang dengan sengaja men-capture postingan kita dan menyebarkannya kepada khalayak luas, ibaratnya dia telah membocorkan rahasia kita dan mengkhianati hubungan persahabatan kita. Artinya adalah kita salah dalam memilih orang yang tepat untuk dijadikan sahabat.

Sama hal nya dengan pertemanan di path, kadang orang suka memperlakukan path seolah seperti facebook, menerima friend request dari siapa saja, tanpa memepertimbangkan apakah dia layak masuk ke ruang personal kita atau tidak. Dampaknya, rahasia pribadi kita bocor kemana-mana, Florence adalah contoh pengguna path yang mungkin tidak selektif dalam memilih sahabat di akunnya, yah mungkin kita juga.

3.Jangan Berpikir: Efek Social Media Hanya Sampai di Dunia Maya Saja

image

Sebagian besar dari kita masih beranggapan “how bad it is happen, it is only happen on social media”, sebrutal apapun tindakan kita di dunia maya, kita menganggapnya tidak menjadi masalah, karena dampaknya hanya sampai di dunia maya saja. Anggapan ini harus disingkirkan jauh-jauh. Masih ingat kasus Prita dan RS. Omni yang akhirnya sampai ke meja pengadilan. Danang, Dinda dan Florence mendapatkan teror, bahkan Florence harus ditahan. Artinya kesalahan yang kita perbuat di social media memiliki kemungkinan besar akan berdampak secara nyata dalam kehidupan kita.

Ada banyak people movement yang berhasil terbentuk dikarenakan mobilisasi massa yang dilakukan melalui digital terlebih dahulu, seperti Indonesia Berkebun, Akademi Berbagi, atau untuk cakupan yang lebih besar seperti revolusi yang terjadi di Mesir. Semua itu berawal dari social media. Jadi jangan pernah berpikir dunia maya tidak powerful. Justru norma sosial akan lebih nampak di social media. Arus protes akan bergulir lebih cepat, dukungan akan terkumpul dengan sangat mudah.

4.Hindari Social Media Saat Emosi

image

Biasakan untuk lebih selektif dalam menentukan konten seperti apa yang pantas diposting. Tidak semua unek-unek pantas kita curahkan ke social media, apalagi saat emosi. Sebisa mungkin menjauhkan diri dari social media saat emosi, karena akan akan mendorong kita untuk memposting hal-hal yang justru menjatuhkan reputasi kita di mata orang-orang.

Saat emosi pun terkadang kita salah sasaran dalam menumpahkan kekesalan kita. Berkaca dari status Florence lagi, jika dicermati Florence hanya kesal kepada para pengendara motor yang antri di SPBU, tapi kenapa Florence malah menyalahkan seluruh warga Jogja? Florence salah dalam menyalahkan. Emosi justru membuat pikiran kita tidak jernih, mengakibatkan kita menjadi salah dalam mengambil tindakan, dan akhirnya akan membahayakan diri kita sendiri di masa akan datang. Karena itu, langkah terbaik adalah menghindari social media saat emosi kita meluap-luap.

It’s not how rock you are, it’s how rock you want to be!

It’s not how rock you are, it’s how rock you want to be!

Mereka Kian Menua

Setibanya di Gorontalo, aku sangatlah senang. Bisa bertemu dengan seluruh keluarga, terutama kedua orangtuaku. Namun di sisi lain, ada perasaan sedih, bersalah, bimbang dan iba, begitu melihat kedua orangtuaku yang semakin bertambah tua.

Baru ku sadari saat ini, mereka tidak semuda dulu lagi, tidak sekuat dulu lagi. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan mereka, terlebih aku sudah tidak tinggal bersama mereka. Siapa yang menemani mereka dengan keadaan yang semakin menua. Sedangkan aku, di rantauan, hidup dengan hingar bingar dunia kerja, dan kehidupan sosial yang dinamis. Membuatku semakin lupa, bahwa di dalam lubuk hati mereka, mereka menginginkan agar aku bisa berada di sisi mereka setiap saat.

Tapi, mereka adalah orang terbaik yang pernah ku miliki, meskipun hal itu adalah keinginan terkuat mereka saat ini, mereka tetap memprioritaskan agar aku tetap bertahan merealisasikan mimpi-mimpi ku, meskipun aku harus tidak bersama mereka. Mereka selalu hidup dengan pengorbanan dan keikhlasan yang tujuannya hanya satu, agar melihat anak-anaknya berhasil mencapai impian mereka di masa depan.

Meski mereka kian menua, aku tetap melihat semangat yang berkobar-kobar terpancar dari kedua mata mereka, semangat untuk menolong anak-anaknya dalam keadaan apapun. Diri mereka tidak menjadi penting lagi, yang penting anak-anak mereka bisa berhasil.

Ternyata benar, kasih orangtua itu sepanjang masa. Tidak peduli anak mereka sudah bisa mandiri, tetap saja ada yang harus mereka korbankan. Seperti sekarang, mereka berkorban untuk tidak hidup bersama dengan anaknya dalam kurun waktu yang lama.

Keadaan inilah yang membuatku bimbang, apakah harus meneruskan jalanku untuk mewujudkan mimpiku di masa depan, atau kembali hidup bersama orangtuaku dan hidup dengan tenang? Aku menginginkan keduanya.

Ya Allah, ku mohon berikanlah kesehatan kepada mereka, tetap lapangkan rezeki mereka, dan selalu kasihi mereka. Aku tidak pernah bosan melihat senyum mereka.

"Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang dimakan saat lapar, dan makanan yang paling menyiksa adalah makanan yang dimakan saat sariawan."