Exosphere Chaser

An inspiring speech by UN Women Goodwill Ambassador, Emma Watson at a special event for the HeForShe campaign, United Nations Headquarters, New York, 20 September 2014.

Hal Yang Menyebalkan: Garuk-Garuk Jerawat

Gimana rasanya ketika ada satu jerawat yang nongol di muka secara tiba-tiba? Pastinya nyebelin. Suatu pagi, sebelum berangkat ngantor, seperti biasa gue ngaca dulu, dan gue menemukan satu spot bagaikan nila setitik yang merusak susu sebelanga. Yap ada jerawat, satu biji, nongol di pipi. Well, sebelnya biasa aja sih. Sampai akhirnya besok paginya – dengan rutinitas yang sama, ngaca – nila setitik itu udah berubah jadi nila sebelanga. Gila, jerawat gue kok mendadak jadi kayak gini yah?! Makin sebel, apalagi temen kantor gue nyeletuk; “itu jerawat apa bisul sih?! Kok gede amat yah?!”

Dengan sabar gue bersihin muka gue secara rutin, dan akhirnya jerawat itu udah mulai kering, tapi belum kempes. Biasanya sih nongol biji kecil banget dari dalam jerawat, nah jerawat gue uda sampe di tahap itu. Gue menahan diri buat gak megang-megang jerawat gue, meskipun agak sedikit gatal. Tapi, semua gak berjalan semulus itu. Suatu pagi, lebih pagi dari kondisi di atas – di mana gue masih tidur dan belum sadarkan diri – gue pun gak sadar garuk sana-garuk sini, namanya juga orang masih tidur.

Cesss!!! Tangan gue dengan mulusnya menggaruk jerawat setengah kering itu sampai pecah. Gue langsung sadar, ngantuk gue hilang seketika, padahal alarm belum bunyi. Semacam gak percaya apa yang terjadi barusan, gue pegang-pegang lagi jerawat gue yang udah tewas. Jari gue agak lembab, kena cairan yang keluar dari jerawat gue yang pecah itu. Damn! Nambah lagi satu bopeng di pipi gue. Jerawat gue pecah beneran, ini bukan mimpi. Dan gue cuma bisa diam, tiduran menatap langit-langit.

Mau nyalahin orang, tapi gak tau siapa yang salah. Dengan terpaksa gue harus ikhlas. Inilah fase di mana rasa sebel gue berada di titik yang paling tinggi saat kena jerawat. 

Kadang lo merasa bosen banget dengan kerjaan lo di kantor yang sepertinya gak bakal habis-habis, sama hal nya dengan gue. Hari ini, gue istirahat beberapa menit dari rutinitas, dan melakukan hal yang gak biasanya. Ya, gue telah melakukan tindakan vandalisme di kantor gue :D

Me and teams had a small celebration for the 4th anniversary of our second home, our lovely company Talk Link. Keep comfort and warm :)

Belajar dari Florence

image

Ini bukan pertama kalinya seseorang dibully habis-habisan di social media. Belum lama dunia maya sempat heboh dengan adanya Danang, si penembak kucing. Kemudian ada Dinda, yang benci sama ibu hamil. Sekarang muncul lagi sosok yang mendadak terkenal karena di-bully, Florence, yang menjelek-jelekkan Jogja lewat statusnya di path. Kenapa harus muncul lagi kejadian serupa? Apakah kejadian Danang dan Dinda tidak cukup untuk pembelajaran bagi kita? Sampai akhirnya muncul korban baru bernama Florence.

Ya, mereka adalah korban, korban ketidaktahuan mereka tentang bagaimana seharusnya bersikap di social media. Florence merasa kesal disoraki oleh para pengendara motor yang sudah antri panjang di sebuah SPBU di Jogja, karena si Florence malah masuk ke antrian mobil dan dianggap mencoba menerobos antrian. Florence pun jengkel dan meluapkan emosinya di path. Entah siapa yang men-capture dan menyebarkan status Florence, hingga akhirnya menjadi viral di social media. Sampai Florence akhirnya didemo warga, bahkan ditahan oleh pihak kepolisian.  

Mari kita semua belajar dari kejadian-kejadian ini, agar tidak ada lagi Danang, Dinda atau Florence yang lainnya. Kejadian menunjukkan bahwa musibah digital ini bisa menimpa siapa saja. Jadi hikmah apa saja yang bisa di ambil dari kejadian ini?

1. Pahami Etika dalam Ber-Social Media

image

Biasanya sebelum bikin account di social media jenis apapun, selalu ada arahan untuk membaca terms & policy. Semua tata tertib dijelaskan dengan gamblang di situ, sayangnya kita malas sekali untuk membaca semua aturan itu. Kita sengaja mengabaikannya dengan asumsi bahwa aturan tersebut tidak terlalu signifikan jika dilanggar. Makanya mindset kita selalu beranggapan bahwa social media adalah ruang yang bebas, tidak ada aturan yang jelas. Padahal apapun social media yang kita gunakan, baik facebook, twitter, instagram, path ataupun yang lainnya, pasti memiliki beberapa aturan yang jelas. Danang, Dinda, dan Florence dan sebagian besar dari kita, sering mengabaikan hal itu. Sehingga terjadi pertengkaran di social media, saling menghina, mengejek dan lain-lain.

2. Beda Social Media, Beda Aturan

image

Sekarang, social media tidak hanya facebook dan twitter saja. Sekarang ada path, Instagram, pinterest, google+, ask.fm, soundcloud, you name it! Karakteristik setiap social media berbeda-beda. Misalnya instagram dan pinterest, meskipun sama-sama image based, namun konten image di instagram dan pinterest digunakan untuk kepentingan yang berbeda. Let say instagram digunakan untuk konten gambar yang bersifat real time, sedangkan pinterest berfungsi sebagai moodboard online.

Florence mengungkapkan kekesalannya melalui path. Social media ini bersifat tertutup, apa yang dibagikan melalui path hanya bisa dilihat oleh teman-teman terdekat. Berbeda dengan facebook, postingan kita terkadang harus diperhatikan, karena di situ kita sudah berteman dengan orangtua kita, dosen kita, bos kita, bahkan seseorang yang tidak kita kenal sama sekali.

Layaknya sahabat, kita bebas mengutarakan kekesalan kita. Jika sahabat kita tersinggung dengan perkataan kita, dia tidak akan menyebarkannya ke orang lain, melainkan mengungkapkannnya langsung kepada diri kita.  Begitulah kira-kira ilustrasi pertemanan di path. Jika ada seseorang yang dengan sengaja men-capture postingan kita dan menyebarkannya kepada khalayak luas, ibaratnya dia telah membocorkan rahasia kita dan mengkhianati hubungan persahabatan kita. Artinya adalah kita salah dalam memilih orang yang tepat untuk dijadikan sahabat.

Sama hal nya dengan pertemanan di path, kadang orang suka memperlakukan path seolah seperti facebook, menerima friend request dari siapa saja, tanpa memepertimbangkan apakah dia layak masuk ke ruang personal kita atau tidak. Dampaknya, rahasia pribadi kita bocor kemana-mana, Florence adalah contoh pengguna path yang mungkin tidak selektif dalam memilih sahabat di akunnya, yah mungkin kita juga.

3.Jangan Berpikir: Efek Social Media Hanya Sampai di Dunia Maya Saja

image

Sebagian besar dari kita masih beranggapan “how bad it is happen, it is only happen on social media”, sebrutal apapun tindakan kita di dunia maya, kita menganggapnya tidak menjadi masalah, karena dampaknya hanya sampai di dunia maya saja. Anggapan ini harus disingkirkan jauh-jauh. Masih ingat kasus Prita dan RS. Omni yang akhirnya sampai ke meja pengadilan. Danang, Dinda dan Florence mendapatkan teror, bahkan Florence harus ditahan. Artinya kesalahan yang kita perbuat di social media memiliki kemungkinan besar akan berdampak secara nyata dalam kehidupan kita.

Ada banyak people movement yang berhasil terbentuk dikarenakan mobilisasi massa yang dilakukan melalui digital terlebih dahulu, seperti Indonesia Berkebun, Akademi Berbagi, atau untuk cakupan yang lebih besar seperti revolusi yang terjadi di Mesir. Semua itu berawal dari social media. Jadi jangan pernah berpikir dunia maya tidak powerful. Justru norma sosial akan lebih nampak di social media. Arus protes akan bergulir lebih cepat, dukungan akan terkumpul dengan sangat mudah.

4.Hindari Social Media Saat Emosi

image

Biasakan untuk lebih selektif dalam menentukan konten seperti apa yang pantas diposting. Tidak semua unek-unek pantas kita curahkan ke social media, apalagi saat emosi. Sebisa mungkin menjauhkan diri dari social media saat emosi, karena akan akan mendorong kita untuk memposting hal-hal yang justru menjatuhkan reputasi kita di mata orang-orang.

Saat emosi pun terkadang kita salah sasaran dalam menumpahkan kekesalan kita. Berkaca dari status Florence lagi, jika dicermati Florence hanya kesal kepada para pengendara motor yang antri di SPBU, tapi kenapa Florence malah menyalahkan seluruh warga Jogja? Florence salah dalam menyalahkan. Emosi justru membuat pikiran kita tidak jernih, mengakibatkan kita menjadi salah dalam mengambil tindakan, dan akhirnya akan membahayakan diri kita sendiri di masa akan datang. Karena itu, langkah terbaik adalah menghindari social media saat emosi kita meluap-luap.

It’s not how rock you are, it’s how rock you want to be!

It’s not how rock you are, it’s how rock you want to be!

Mereka Kian Menua

Setibanya di Gorontalo, aku sangatlah senang. Bisa bertemu dengan seluruh keluarga, terutama kedua orangtuaku. Namun di sisi lain, ada perasaan sedih, bersalah, bimbang dan iba, begitu melihat kedua orangtuaku yang semakin bertambah tua.

Baru ku sadari saat ini, mereka tidak semuda dulu lagi, tidak sekuat dulu lagi. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan mereka, terlebih aku sudah tidak tinggal bersama mereka. Siapa yang menemani mereka dengan keadaan yang semakin menua. Sedangkan aku, di rantauan, hidup dengan hingar bingar dunia kerja, dan kehidupan sosial yang dinamis. Membuatku semakin lupa, bahwa di dalam lubuk hati mereka, mereka menginginkan agar aku bisa berada di sisi mereka setiap saat.

Tapi, mereka adalah orang terbaik yang pernah ku miliki, meskipun hal itu adalah keinginan terkuat mereka saat ini, mereka tetap memprioritaskan agar aku tetap bertahan merealisasikan mimpi-mimpi ku, meskipun aku harus tidak bersama mereka. Mereka selalu hidup dengan pengorbanan dan keikhlasan yang tujuannya hanya satu, agar melihat anak-anaknya berhasil mencapai impian mereka di masa depan.

Meski mereka kian menua, aku tetap melihat semangat yang berkobar-kobar terpancar dari kedua mata mereka, semangat untuk menolong anak-anaknya dalam keadaan apapun. Diri mereka tidak menjadi penting lagi, yang penting anak-anak mereka bisa berhasil.

Ternyata benar, kasih orangtua itu sepanjang masa. Tidak peduli anak mereka sudah bisa mandiri, tetap saja ada yang harus mereka korbankan. Seperti sekarang, mereka berkorban untuk tidak hidup bersama dengan anaknya dalam kurun waktu yang lama.

Keadaan inilah yang membuatku bimbang, apakah harus meneruskan jalanku untuk mewujudkan mimpiku di masa depan, atau kembali hidup bersama orangtuaku dan hidup dengan tenang? Aku menginginkan keduanya.

Ya Allah, ku mohon berikanlah kesehatan kepada mereka, tetap lapangkan rezeki mereka, dan selalu kasihi mereka. Aku tidak pernah bosan melihat senyum mereka.

"Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang dimakan saat lapar, dan makanan yang paling menyiksa adalah makanan yang dimakan saat sariawan."

Balada Mbak-Mbak

image

Setiap musim lebaran, pastinya kita selalu menikmatinya dengan penuh sukacita, bahkan ketika kita uda mulai masuk kerja. Karena mungkin kita uda kangen dengan suasana kantor (meskipun menetap di rumah lebih menyenangkan). Cuman, teman kerja gue yang udah berumah-tangga selalu was-was, harap-harap cemas, karena Pembantu Rumah Tangga (PRT) – atau yang lebih akrab disapa ‘Mbak’ – gak ngasih kejelasan kapan mereka balik dari mudik. Kalo didiemin biasanya mereka mah gak ada kabar, nanti ditelepon baru deh kasih kepastian kalo mereka gak bakal balik ke Jakarta. Alasannya macem-macem, ada yang udah ditahan sama keluarga di kampung, dijodohin, dan lain-lain.

Yang menarik adalah, balada para Mbak ini selalu terjadi pasca musim lebaran. Gue suka kaget, Mbak-nya bos gue udah berganti rupa beberapa kali. Awalnya, gue mikir bos gue punya beberapa orang Mbak, tapi rupanya Mbak-nya yang udah gonta-ganti beberapa kali. Kejadian ini cuma terjadi di Jakarta, atau mungkin beberapa kota besar lain. Gue gak pernah nemuin kejadian ini di kampung halaman gue, Gorontalo. Paling mentok Mbak-nya diganti karena kejadian-kejadian tak terduga, seperti meninggal dunia. Itu pun yang gantiin masih sodaraan sama si Mbak yang meninggal dunia itu.

Gue gak nge-judge kalo orang-orang di Jakarta memperlakukan Mbak-Mbak nya dengan tidak layak. Mereka semua baik-baik kok sebagai majikan, bahkan beberapa menggaji Mbak-nya dengan tarif yang tinggi. Tapi ada aja yang bikin si Mbak ini gak betah, dan biasanya itu dikarenakan hal-hal yang sepele. Gue gak tau secara pasti, bisa aja karena kamarnya yang terlalu sempit dan gerah banget, atau mereka malu jalan-jalan ke mall gede tapi pakaian mereka lusuh. Atau hal-hal kecil lainnya, yang mungkin saja orang-orang metropolitan gak peka tentang hal-hal kecil itu.

Di Gorontalo, mungkin orang berpikir gak banyak yang membutuhkan si Mbak karena profesi working mom masih sedikit. Jangan salah, working mom di Gorontalo cukup banyak loh, bahkan udah ada sejak dulu. Contohnya, Oma gue, dia seorang guru dan punya delapan anak yang harus diurus. Pastinya Oma gue kewalahan banget, akhirnya dia mempekerjakan beberapa orang Mbak di rumah buat mengasuh anak-anaknya. Seiring anak-anaknya udah bertumbuh besar, maka Mbak yang bekerja mulai dikurangi satu per satu. Hingga tersisa satu Mbak di rumah, namanya Hani. Tapi gara-gara gue, semua orang jadi manggil Ate ke Hani (ceritanya panjang, lain kali aja gue ceritain). Gue salut banget sama si Ate yang bisa bertahan di keluarga gue sampai tiga generasi, sampai akhir hayatnya. I miss you Ate :(

Poinnya adalah, orang-orang di Gorontalo suka memperlakukan Mbak-Mbak setara dengan si majikan. Si majikan suka bergosip bareng dengan Mbak-nya tanpa ada rasa sungkan. Anak-anak selalu salaman dan mencium tangan si Mbak yang umurnya lebih tua.  Atau ketika sedang ada hajatan, si majikan pun menyiapkan pakaian yang bagus buat si Mbak. Si Majikan kadang suka mengusili si Mbak terkait hal-hal yang pribadi, misal ketika si Mbak lagi dideketin satpam komplek. Bahkan ada majikan yang turut mewariskan si Mbak sepetak tanah atau sawah.

Gue melihat hubungan antara majikan dan Mbak-nya ini sangat erat dan tidak ada gap sosial yang membedakan keduanya. Gak jarang beberapa Mbak malah memilih gak mudik, dan justru mengajak keluarganya yang ber-lebaran di rumah si majikan. Karena si Mbak sudah merasa rumah majikannya seperti rumah mereka sendiri. Nah, kadang hal-hal sepele seperti itu yang susah dijalankan oleh orang-orang Jakarta yang cenderung individualis dan cuek bebek. Meskipun pada dasarnya mereka semua sangat baik terhadap Mbak-Mbak mereka. Cuman baiknya orang kota dengan orang desa kan beda, hehehe…

Pria Itu Penuh Keceriaan

Mengingat Opa, membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Karena Opa adalah sosok yang ceria, menurut saya. Tidak pernah saya melihat Opa sedih, marah, atau pun penuh emosi yang meluap-luap. Kalaupun marah pada akhirnya akan tertawa juga, seolah-olah dia menertawakan kemarahannya yang barusan dia lakukan. Tapi sekarang, mungkin untuk tersenyum menjadi sangat berat, mengingat Opa kini membuat saya sedih, karena saya tidak bisa melihatnya tersenyum penuh arti, ataupun mendengar panggilan ‘sayang’ khasnya kepada para cucu. 
 
Opa tidak kalah inspiratif dari Oma. Opa sangat rajin membaca, hampir tiap hari banyak koran-koran yang bertumpuk di tempat tidurnya, yang dibacanya hinga dia tertidur. Kadang Oma suka mengomel kalau pagi-pagi di tempat tidur banyak koran-koran kusut berserakan di tempat tidur. Opa juga suka membeli buku-buku yang menurut orang lain tidak ada gunanya, tapi semua buku itu dibaca tuntas sama Opa. Juga ketika Opa membeli buku catatan kecil berulang-ulang kali dan ditulis dengan hal-hal yang tidak dimengerti, di situ saya paham Opa selalu mencatat informasi dan pengetahuan baru yang menurut Opa itu penting dan akan bermanfaat suatu saat nanti. Kadang juga saya heran melihat Opa suka berbicara sendiri mengenai penjajahan Belanda, invasi Jepang, atau topik-topik berat lainnya, belakangan saya mengerti rupanya itu adalah cara Opa untuk membuat informasi dan pengetahuan yang dia miliki tidak mudah dilupakan dan terus diingat. 
 
Tidak heran, jika Opa selalu ingat segala sesuatu yang pernah dia alami selama hidupnya sejak dia masih muda, dan juga tidak pernah lupa tentang informasi dan pengetahuan yang dilihat, dibaca, ataupun didengar. Waktu saya masih SD, saya menganggap Opa adalah orang yang paling pintar, mengalahkan guru-guru saya yang di sekolah.
 
Saya juga menyukai sifat Opa yang berani, tidak malu untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan meskipun hal tersebut dianggap tidak lazim oleh orang lain. Saya senang mendapatkan kesempatan menemani Opa setiap saat berbelanja di supermarket, selain membantu Opa membawa barang-barangnya, saya suka menyelipkan dua buah cokelat, atau dua bungkus snack Chiki di belanjaan itu. Mengapa selalu menyelipkan dua cemilan yang sama? Satunya untuk saya makan sendiri, satunya lagi untuk adik saya. 
 
Ketika tiba di rumah dengan banyaknya barang belanjaan, Ibu saya pasti senang karena tidak perlu belanja bulanan lagi, Om Walid senang karena kebagian rokok, dan Oma yang akan mengomel karena Opa selalu boros. Tapi kadang-kadang Oma diam-diam menyimpan snack-snack belanjaan Opa untuk dimakan sewaktu-waktu. Menurut saya momen itu lucu sekali. 
 
Terimakasih Opa, telah membuat masa kecil saya penuh warna :)